Sabtu, 21 Januari 2012

It's Me 1

Jam beker membangunkan ku dari mimpiku. Ternyata hari sudah pagi ya? Oke aku siap melawan hari ini walaupun... yah agak sedikit malas.
Nama ku Rara. Tepatnya Ranisa. Aku seorang gadis 15 tahun yang baru menduduki kursi SMA. Rambut ku sebahu dan selalu dikuncir. Menurut temen-temen di sekolah sih, katanya aku jutek. Padahal engga banget! Aku bisa bergaul sama siapa saja. Mau cewe mau cowok mau bences sekalipun, jabanin!!!
Selesai mandi dan berpakaian, aku langsung turun ke meja makan. Disana ada ke3 kakak ku lengkap beserta mama dan papa. “Pagi semuaaa!” Sapaku pada mereka.
Tapi mereka hanya menatap ku sekilas dan kembali pada aktifitas ngunyah-mengunyahnya. Kecuali Kak Rana dan Mama. Dua orang itu tersenyum padaku
“Pagi juga. Ayo sarapan.” Kata mama sambil menyendokan nasi goreng ke piring makanku. Aku hanya tersenyum menatap mama.
“Oh iya, Ram, gue nebeng ya?” kataku pada Rama.
 “Gak! Gue mau jemput temen dulu!”jawabnya ketus.
Dia Ramadika. Kakak ku yang hanya terpaut 2 tahun denganku. Karena itu aku berani memanggilnya dengan sebutan nama. Seorang kapten basket yang banyak diidolakan cewe-cewe. Kebetulan aku satu SMA  dengan dia. Tapi tak satupun orang tau kalau aku adik si The Most Wanted itu.
“Kak Rai? Mau nganter aku?” tanya ku penuh harap.
“Gak! Gue mau ngerjain makalah dulu sama temen” Tolaknya. Aku melongos.
Namanya Raini. Kakak ku yang paling modis tapi juga yang paling judes! Kerjaannya liat majalah fashion fashion dan fashion. Padahal setiap ada audisi gadis sampul, dia ga pernah lolos! Sukur sukur... Setiap hari pasti ada aja yang diributin aku sama dia. Sebel banget!  Mau eksis tapi alay!
       Aku menatap kakak harapan terakhirku. Kak Rana. Ranaya si otak emas. Diantara kami berempat, hanya otak dia yang di atas rata-rara. Yang lainnya? Jangan Tanya deh. Dia menatapku balik. Aku membalas tatapan itu dengan muka yang dimelas-melasin. Dia tersenyum. “Oke gue anter.”
Aku menari-nari kegirangan.”Yes-yes ada yang nganter yuhuuu. Liat noh kakak yang baik dan berbudipekerti!  Gak kayak kalian!”
“Hhh... yaaa whatever do you say. Aku berangkat ya, Ma, Pa.” Ucap Rama sambil mencium punggung tangan mama dan papa. Mereka hanya tersenyum. “Assalamualaikum!!!” teriaknya dari ambang pintu.
“Waalaikumsalam” Balas kami.
“Ra, giimana sekolahnya? Udah dapet temen?” Tanya papa kepadaku.
Papa. Seorang pengusaha di bidang financial. Wajahku dan wajah Rama adalah hasil scan-an dari wajahnya.
Aku tersenyum manis. “Belom sih, Pa. Mukanya ngajak ribut semua. Aku lewat,mereka ngelirik dari atas sampeeee bawah. Ngeselin kan?!”
“Mereka belom tau dalemnya kamu itu.Tenang aja.” Ujar mama yang ada disebelahku.
Mama adalah satu-satunya wanita yang jago masak diantara Kak Rana, Kak Rai, dan aku. Iyalah. Secara dia lulusan fakultas tata-boga di universitasnya. Karena itu, dengan bermodalkan tangannya yang jago soal masalah dapur-mendapur, akhirnya dia membuka usaha catering.
Aku mengangguk sambil tetap melahap nasi goreng ku.
“Dalemnya tomboy! Hobinya bantai-bantai-in orang. Cewek apaan kayak gitu!” Celetuk kak Rai
“Yeeeyyy emang nya kakak! kemana-mana dandan! Udah aja itu mah tante-tante di komplek sebelah juga kalah!” Balas ku tak mau kalah.
“Elo tuh cewek jadi-jadian!
“Elo tuh Lebay!”
“Elo tuh...”
Kalimatnya kak Rai terhenti karena melihat mama yang tiba-tiba berjalan ke dapur. Balik dari dapur, aku melihat ditangan mama sudah tersedia dua pisau daging. ”Mau ribut lagi? Nih piso ambil satu-satu.” Kata mama sambil membagikan 2 pisau itu ke aku dan kak Rai.
Kami hanya bengong menatap pisau itu. Segitunyakah kita?
Kak Rana tertawa puas. Aku dan kak Rai Manyun.”Hahaha udah ah ayo berangkat. Ntar kesiangan.” Ujar kak Rana sambil menggendong tasnya. Akupun mengikutinya. Begitu juga kak Rai.
Kami pergi setelah mencium tangan orang tua kami. Aku dan kak Rana naik motor sedangkan kak Rai naik mobil. Dan diantara kami berempat,  Cuma Kak Rai yang punya mobil. Bukan beli pake duit dia sendiri kok. Masih pake duit Papa!

Aku sudah sampai didepan gerbang sekolah ku. Turun dari motor kak Rana dan tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku. Tanpa ada keluar sepatah kata pun, aku langsung saja ngeloyor menjauhi kak Rana. Saat aku melirik kebelekan, kak Rana sudah tidak ada. Hmmm baagus deh. Bagus kenapa? Aku juga tidak tau.
Kelas ku berada di tingkat dua gedung ini. X.1. Kelas yang isicewek-ceweknya menyerupai kak Rai. Dandan-dandan-dandan. Kalau mereka udah selesai dandannya, pasti mereka nanya ke temen cowok, “Eh gue udah cakep belom sih?”. Aduuuuuh bisa gila lama-lama dikelas ini. Aku salah satu diantara due cewek yang gak suka dandan disini. Tapi itu dulu. Waktu pertama masuk. Sekarang, cewek yang tadinya ga suka dandan itu memaksakan dirinya untuk ikutan dandan juga. Biar apa? Biar ga dikucilin! Alasan yang tidak logis! Masyallaaaaah nyantai aja sih lebay-lebay amat! Rempong deh ah.Sebenernya, mereka mau sekolah buat nyari ilmu apa mau mangkal buat nyari duit sih?
“Hai.” Panggil seseorang yang ada tiba-tiba ada di sebelahku.
Aku setengah kaget. “Addduh gila lo dateng pake salam kek apakek! Ini langsung aja nyosor.”
“Tadi kan udah nyapa.”Katanya sambil tersenyum. Aduh ya ampun senyumnyaaaaa... “Boleh numpang disini bentar?”
“Oh, emh, boleh kok silahkan aja.” Ucap ku sambil membalas senyumnya. Aku menyandarkan tubuhku di sandaran kursi ini. “Kenapa gak gabung sama cowok-cowok itu aja?” aku menunjuk segorombolan cowok yang ada dibarisan paling kanan yang terlihat sedang berdiskusi.
“Tadi udah nyoba kesana. Taunya mereka lagi ngomongin rencana tawuran.” Jelasnya lalu menghembuskan nafas pelan.”Kelas yang membosankan.” Katanya lirih.
“Sangat membosankan.” Tambahku.
Dia membenahi posisi duduknya menghadap padaku lalu menjulurkan tangan kanannya. “I’m Fahmi. Just call me Ami. You?”
Aku menjabat tangannya. “I’m Ranisa. Biasa di panggil Rara.” Ucap ku sambil tersenyum.
“Dulunya SMP mana?”
“Gue ga SMP di Jakarta. Gue SMP di Bandung.”
“Kok sama? SMP apa?” katanya pura-pura kaget. Ya, aku tau itu adalah ekspresi pura-pura keget.
Aku dan Fahmi ngobrol dengan asyiknya. Apapun yang terbesit pasti dibicarakan. Mulai dari yang penting sampai yang tidak penting sekalipun. Ami? Lumayan juga. Cowok tinggi berkacamata ini cukup ganteng. Menurutku.
“Oh iya, gue pindah kesini aja ya?” katanya kemudian.
Aku menaikan satu alisku. “Kenapa? Denger-denger yang duduk semeja sama lu sekarang kan pinter. Kenapa harus pindah?” Tanyaku.
Dia tersenyum. “Ya ga apa-apa. Pengen aja ngerasain semeja sama cewe.”
Alasan yang benar-benar tidak masuk akal. Tapi gak apa deh. Lagian aku juga sedang tidak ada teman semeja. Engga masalah juga sih. Pikirku. Aku tersenyum dan mengangguk setuju. “Oke silakan”
Dia membalas senyumanku lalu bergegas mengambil tasnya yang berada dimeja paling pojok barisan paling kanan. “Thanks ya.” Katanya ssat kembali ke mejaku.
“Yap sama-sama.”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berhamburan kecuali aku dan Ami. Kami sepakat untuk tidak jajan pada istirahat pertama.Karena katanya kalo istirahat pertama itu, kantin pasti penuh. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Aku sibuk mencari-cari buku apa yang seru untuk dibaca. Sebenarnya aku tidak terlalu suka baca. Aku lebih suka tidur ketimbang melakukan suatu hal lain
Aku memang berbeda jauh dengan kakak-kakak ku. Dengan kak Rana, aku berbeda otak. Dia rajin dan aku malas. Tapi syukur selama ini aku tidak pernah keluar dari 10 besar. Dengan kak Rai... yaaaa tau sendiri lah, aku tidak suka dandan sedangkan dia sangat suka dengan hal itu. Dengan Rama, dia pintar dalam bermain basket. Sedangkan aku? Ngeshoot aja jarang-jarang ada bola masuk.
“Ra! Liat deh!” Suara Ami membangunkan lamunan ku. Aku menoleh padanya. Kulihat dia sedang memegang sebuah buku sejarahl.
Aku tersenyum lalu mendekatinya. “Sejarah ya? Baca dong, Mi. Ntar gue dengerin.”
Ami mengernyit. “Maksud kamu?”
“Aduuuh ya jadi gini, lo baca yang kencengan dikit, ntar gue dengerin suara lo.” Jelasku.
Ami mengangguk. “Kenapa ga kita baca bareng-bareng aja?” Tanyanya.
“Amiiii ga usah banyak tanya deh! Udah kerjain aja apa yang gue suruh!”
Ami tertawa kecil. Kami menuju meja perpustakaan lalu duduk dikursi dekat meja itu. Ami ada disebelah kanan ku. Dia mulai bercerita. Aku mendengarkan sebaik mungkin. Dia bercerita sampai bel masuk berbunyi. Aku mengguncangkan tubuhnya.
“Mi, udah bel. Ayo ke kelas!”
Ami memnutup buku itu. “Oh udah bel ya? Yaudah deh ayo.” Katanya lalu pergi sebentar untuk menyimpan buku itu.
Aku menunggunya di depan pintu perpustakaan. Tiba-tiba hujan turun. Sebelumnya memang awan sudah mendung.
“Ujannya ga terlalu gede kok. Ayo ke kelas.” Kata Ami yang ternyata sudah ada disebelahku.
“Tapikan sama aja mau gede mau kecilkalo kena ujan ya tetep aja basah.” Kataku malas.
Ami menarik tanganku sambil berlari. Apa daya, aku pun mengikutinya berlari sampai kelas. Suasana kelas sedang bising karena guru tidak masuk. Ditambah suara rintik hujan yang makin lama makin besar.Aku dan Ami berdiri di balkon depan kelasku menatap hujan yang turun. Daripada di dalam. Gendang telinga bisa pecah gara-gara suara anak cewe yang lagi ngobrol-ngobrol sambil cekikikan.
Aku mendekap tubuhku kuat. Lama-lama dingin juga ya. “Mi, gue ke dalem dulu deh mau ngambil jaket.” Kataku pada Ami.
Ami hanya mengangguk kecil walau pandangannya masih tertuju pada langit yang masih mengeluarkan butiran-butiran air.
Aku bergegas masuk ke dalam kelas. Perasaan ga enak nih. Kayaknya mata anak cewe yang lagi ngerumpi pada lagi melihatku. Aku cepat-cepat mengambil jaket rajutku yang berwarna putih. Risih lama-lama disini. Setelah mendapatkan jaket ku, aku berlari kecil keluar kelas. Tapi tiba-tiba suara salah satu cewek dari gerombolan itu membuatku berhenti berlari dan terdiam ditempat.
“Baru masuk tapi udah cinlok aja ya.”
“Ceweknya kali tuh yang kecentilan! Kalo cowoknya sih perasaan diem-diem aja deh.”
“Malu-maluin banget yaaaa...”
Suara tertawa mereka terdengar sangat keras. Aku membalikan tubuhku menghadap mereka. “Maksud kalian apa? Siapa yang kalian maksud hah?!”
“Ow ow ow... Merasa tersindir ya? Bagus deh. Nyadar!” Jawab salah satu anggota dari mereka. Dia menatapku dariatas sampai bawah. “Gak ada feminim-feminimnya guys!”
Aku menarik lengannya dan memojokan ia di dinding sebelah papan tulis. “Mau lo apa? Sparring? Oke ladenin! Dimana? Lapangan?” Tanyaku berubi-tubi dengan senyum sinis.
Wajahnya berubah datar. Tapi seketika, diapun menyunggingkan senyum mengejeknya padaku. “Sparing? Lapangan? Kenapa ga di jalan tol aja?”
“Kalo lo maunya gitu sih, gue mah oke oke aja.” Jawab ku menantang.
Tiba-tiba tangannya meraih rambutku lalu menjenggut dengan kuat. Aku berhasil  melepas tangannya yang sok lentik itu dari rambutku kemudian menamparnya. Dia berusaha membalas tamparan itu. Tapi tiba-tiba tangan Ami mencengkram kuat pergelangan tangannya. Cewek itu menatap Ami dengan pandangan kesal. Ami juga menatap pandangan itu dengan tatapan yang lebih kesal.
“Ga lucu tau gak, Dis?!” Kata Ami pada cewek itu.
Cewek itu tersenyum manis pada Ami Lalu meletakan kedua telapak tangan nya di pipi Ami. Menjijikan! “Siapa yang ngelucu sih?”
Ami melepaskan tangan Cewek itu dari pipinya. “Ga usah sok manis deh, Dis! Jijik gue liatnya.” Kata Ami ketus pada Disa. Mendengar perkataan Ami, aku tertawa puas dalam hati. Ami menarik tanganku keluar kelas dan membawaku pergi. Aku membayangkan pasti sekarang muka Disa sudah memerah menahan amarah.
Ami membawaku ke kantin lalu mendudukannya di salah satu kursi kantin. “Lo apa-apaan sih? Untung tadi ga ada guru.” Ami membawaku ke kantin lalu mendudukannya di salah satu kursi kantin. “Lo apa-apaan sih? Untung tadi ga ada guru.”
“Yang nyari masalah siapa? Dia!” Aku menggerutu lalu memanyunkan bibirku.
“Tapi gak usah diladenin bisa kan?!”
“Engga! Pengetahuan pertama buat lo, gue gak suka diemin orang begituan.” Ucap ku yang menekankan kata-kata di akhir kalimat.
Aku meninggalkan Ami yang masih menatapku dari kursi kantin. Dari dulu, dari kecil sampai sekarang, aku memang tidak bisa mengendalikan emosiku. Banyak yang teman-teman cewek yang menjauh dariku. Aku tidak peduli. Badan, badan siapa? Hidup, hidup siapa? Masalah buat lo!? Siapa lo siapa gue. Anything about you, I dont care.
Karena tak terlalu memperhatikan jalan, alhasil aku menabrak seseorang. Dan yang lebih parahnnya lagi, aku terjatuh mengakibatkan pantatku bersentuhan dengan tanah secara tiba-tiba. Sakiiit!!! Aku mendongkakan kepalaku hendak memarahi orang itu. Mataku menyinis saat tau siapa yang sebenarnya aku tabrak.
Orang yang aku tabrak membukukan badannya dan kini dia benar-benar sudah berhadapan denganku. “Punya mata?”
Aku diam. Kalau saja bukan di sekolaaaahhh...
“Pake mata lo!” Katanya sambil memicingkan ke dua matanya.
“Udah lah, Ram. Ga perlu ngurusin adek kelas.,” celetuk seseorang  dari belakang tubuh Rama.
Rama melirik kebelakang, lalu kembali berhadapan denganku. Memasang senyum mengejeknya yang... sumpah! Bikin mau nonjok!  “Ya ya ya.Terlalu childish emang kalo harus ngurusin bocah pendek kayak gini.”
Aku menegadahkan sedikit muka ku. Ingin menyemprotnya dengan berbagai makian yang daritadi menimbun di dada. Tiba-tiba
aku teringat janjiku untuk tidak melawan apa-apa padanya karena statusku di sekolah adalah ADIK KELAS!
Rama dan temannya melangkah menjauhi ku. Aku menatapnya sampai mereka berjalan 5 langkah dariku. Teman nya Rama melirik kebelakang sambil mengulurkan sebuah senyum tipis padaku. Maksudnya apa, aku tak tau. Yang jelas THERE WILL BE REVENGE LATER AT HOME. Wait me, Rama!