“Paaaakkk… Bapaaakkk! Ayolah pak. Saya mau ngejar nilai.” Teriak cewek berkuncir satu itu.
“Tapi kan jam dah habis! Kamu sama saja buang waktu saya.” Kata seorang guru laki-laki yang terus berjalan ke arah ruang guru
“Yah Bapaaaak plis ya pak sebentaaaaar aja. Ga usah pake pendalaman meteri juga ga apa-apa deh”
“Saya bilang ga bisa ya ga bisa!” Ucap guru itu tegas.
“Ulangan doang pak ya ampun deh bapak jahat bangettt!!! Bapak mau liat saya disiksa ayah saya gara-gara ga ikut ulangan fisika?” Cewek tadi masih merajuk.
Guru tersebut menghentikan langkahnya sehingga membuat Rene, gadis itu menbrak punggung gurunya.
“Adawww gilak pala gue sak… Eh bapak ya pak yaaa? Bapak kan guru fisika terbaik pak.” Ujar Rena memelas.
“Sebagai guru yang baik hati…” Ucapan Pak Dani dipotong gumaman Rena.
“Baik apaan? Orang jarang senyum gitu.”
“Ya sudah kalo gak mau.” Kata pak Dani sambill melenggang pergi lagi.
Rena menarik tangan pak Dani. ”Eeeh jangan pak jangan iya deh iya.”
“Hhh ke kamu bisa ikut ulangan susulan.”
Rena berjoget-joget gembira “Yes yes yes akhir…”
“Dirumah saya.”
“HAH?!” ucap Rena kaget.
“Kenpa? Salah?” Tanya pak Dani.
“Bapak Dani yang ganteng dan narsis, masalahnya…” ucap Rena ragu-ragu.
“Apa?”
“Rena gak tau rumah bapak hihihi…”
“Kak bangun iiiih ntar kalo ayah dateng ntar lo dimarahin looooh! Udah 3 hari lu bolos kuliah! Masa mau bikin jadi 4 hari sih? Buru bangun!” Seseorang anak kecil berusaha membangunkan tidur kakaknya yang bener bener kayak kebo. Susah banget meleknyaaaa!!!
Cowok tadi manrik badan adiknya kuat hingga sekarang tubuh adiknya berda dalam pelukan cowok yang masih malas-malasan ga jelas itu.
“Astagfirullaaah lo gila apa ya? Dasar monster peluk! Ih lepas! Ayaaah kak Angganya rese Yaaaaah!!!” Teriak anak kecil itu sambil berusaha berontak dari palukan kakaknya.
“L lupa? Ayah kan belum balik. Lagian gue kangen lu Delaaa. Masa kuliah terus sih guenya? Kan gak lucu.”
“Emang gak lucu! Cepet lepasin gue! Ayah pulang ntar gue bilangin loh!” Ancam Dela.
“Takut? Lagian mata lu kan mirip matanya ibu, Del. Gue kangen ibu.” Ucap Angga lirih.
“Gue juga kangen ibu…” Dela tidak lagi berontak.
“Andai ibu disini ya, Del. Pasti kita ga bakal kesepian.” Bisik Angga.
“Andai ibu disini ya, Kak. Pasti gue ga bakal jadi bahan penyiksaan monster peluk kayak lo.”
Angga tertawa renyah lalu melepaskan pelukannya dari Dela. “Elu bau!”
“Yey enak aja elu tuh yang bau! Gue sih anak cantik jadinya ga bakal bau. Gebean gue aja nyebar dimana-mana.” Jelas Dela ke kakaknya yang baru bangkit dari posisi tidur.
“Gebetan? Buta semua!” Teriak Angga yang berjalan untuk mengambil handuk.
“Biarin! Daripada ga punya pacar kayak lu. Gebetan pun gak punya. Itu artinya lo jelek! Jelek! Jelek! Sekali lagi, J-E-L-E-K!”
“Cot lu! Mau gue peluk lagi?” Ancam Angga sambil mendekati Dela.
Suara mbil terdengar dari luar rumah. Membuat Dela menari kegirangan. Akhirnya dia bisa bebas dari kakaknya yang freak ini. Dela dan Angga berjalan ke pintu depan menyambut ayahnya yang baru pulang.
________________________________________________________________
“Disini pak?” Tanya Rena ragu.
“Iyalah! Emang saya mau tiggal dimana lagi?”
Rena nyengir malu. Salah tanya deh gue. Bego!
Pak Dani dan Rena turun dari mobil. Dilihatnya sudah ada dua malaikat kesayangan yang selalu menempati ruang nmr satu di hatinya. Pak Dani melanhakah menuju ke dua orang yang sedang tersenyum manis di ambang pintu.
“Ayaaaah kak Angga gila tau gak, yah! Masa tadi Dela dipelik kuat banget sama Kak Angga!” Adu Dela.
Dani mentap tajam ke bola mata Angga.
“Bhong, Yah. Dela itu lebay! Jangan mau percaya sama orang lebay kayak dia.” Angga berusaha membela dirinya sendiri.
“Kenapa ni anak dilepasin? Peluk aja terus, Ngga. Dia kan gak mau diem! Jangan biarin lolos.” Ucap Pak Dani.
Dela membelalakan matanya sedangkan Angga tersenyum jail kepada adiknya yang sedang menikmati kekagetan karena ucapan ayahnya itu.
“Oh enggak jangan, jangan!” Kata Dela yang semakin lama semakin memundurkan langkahnya.
“Siap-siap duplikat mamaaaaaa!” Angga makin mendekat kearah Dela.
“Toloooong ga mau ga mau!!! Ayaaaaahhh!!!” Teriak Dela kencang sekali sambil terus berlari menjauhi kakaknya yang terlanjur gila ini.
Rena tertawa melihat tingkah ketiga manusia itu. Keluarga sarap. Dia macah mematung didekat mobil gurunya. Ternyata pak Dani kalo dirumah orangnya asik ya. Kalo di sekolah, jangan harap seorang Dani Firdaus guru fisika itu bisa tersenyum barang Cuma sebentar.
“Kamu!” Panggil pak Dani.
Rena celingukan. Memastikan bahwa memang dia yang sedang dipanggil pak Dani. Rena menunjuk dirinya sendiri dengan pandangan tanda tanya ke pak Dani.
Pak Dani mengangguk pelan. “Kamu saya panggil bukannya langsung jalan malah diem aja. Dasar lemot!” Kata Pak Dani waktu Rena ada disampingnya.
“Ya abis bapak manggilnya kayak manggil tukang baso! Saya kan bukan tukang baso!” gerutu Rena kesal.
“Oke oke sekarang kamu silahkan duduk dulu.”
Dasar orang planet lain, Nyuruh duduk kayak nyuruh orang yang mau nunggu bos terima lamaran magang. Batin Rena.
Di kamar Angga, dia dan adiknya sedang melihat cwek mungil berambut sebahu yang sedang memainkan handphonenya. Melihat dari atas sampaiiii bawah seolah-olah Rena adalah teroris.
“Kak.” Panggil Dela.
“Hmm?” Jawab Angga.
“Itu siapa sih?’” Tenya Dela.
“Ya muridnya lah, Nyong! Masa caln ibu baru kita?” Cetus Angga sambil menjitak kepala adiknya.
Dela mengelus kepalanya yang sakit hasil dari jitakan mulus yang dikasih Angga. “Adaah sakit, Bego! Kan ga menutupi kemungkinan kalo ayah suka dia.” Bantah Dela.
“Mending kalo tu cewek juga suka sama ayah. Kalo enggak?”
“hehehe iya sih.”
“Cantik ya, Del?” Ujar Angga pelan sambil terus memandangi Rena.
Dela kaget. Dia memegang kening kakaknya yang sama sekali tidak panas. “Oh my god! Kak, elu normal? Elu ga hom? Alhamdulillaaaaaah… Ibu, lihatlah anak laki-lakimu ini!”
“Kampret! Alay tau gak?!”
“Ayaaaaaah berita besar!!!” Dela berlari keluar menuju ayahnya. Anjalaaaaaaaa ni kupret satu bener-bener minta dipeluk! “Ayah akhirnya kak Angga… hhmmppffff…” KA;limat Dela terhenti karena dekapan tangan Angga dimulutnya.
“Apasih lo ah! Gak lucu!” Bisik Angga ditelinga Dela.
“Kata kak Angga, kakak yang disebelah ayah… hhhmmmpppfff…” katanya disela-sela dekapan kakaknya yang kuat.
Angga memeluk Dela kuat “Maaf, anak ini sepertinya harus dicelupin ke bak mandi dulu bentar biar otaknya bener dikit. Good bye all.” Ucaonya sambil membawa Dela pergi dari ruang tamu.
Rena tertawa sedangkan Pak Dani melongo melihat keanehan dua anaknya.
“Kak Angga suka sama kaka cantik deket Ayaaaaaaah!!!” Dela teriak smabil berlari kekamar lalu menguncinya.
“Angga berusaha membuka pintu kamarnya yang tadi dikunci Dela. “Heh curut! Bukaaa!’
Angga dapat melihat Rena yang masih mtertawa melihat tingkah laku dia dan adiknya. Sekejap, wajah Angga memanas. Kok gue jadi salting gini ya?
“Yah, Angga berangkat ya.” Pamit Angga pada ayahnya lalu melenggang pergi. Tapi tiba-tiba tangan Angga ditarik oleh ayahnya.
“Anter Rena pulang dulu bisa kan?” Kata pak Dani sambil tersenyum jahil,
Rena menegakan tubuhnya yang tadi asik mengerjalan tugas-tugas yang diberikan Pak Dani. “Rena pulang sendiri aja, Pak.”
“Tuh, Yah. Murid ayh aja maunya pulang sendiri. Udah ya Angga pergi.”
Pak Dani menarik lagi tangan Angga,. “Pokoknya harus anter Rena pulang!”
“Pak, saya pulang sen…”
“Beresin buku-buku kamu,. Ntar biar Angga yang nganter kamu pulang.” Ucap pak Dani tegas.
Yah mau gak mau Angga harus mau. Angga mendengus kesal. Dia berjalan ke arah motornya yang terpakir didepan rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar